Isu sara, Google Youtube dan Facebook hapus konten di india
Dua Raksasa internet kenamaan Google dan Facebook terpaksa menghapus konten mereka setelah pengadilan India mengeluarkan ancaman blokir kontennya karena dianggap menyinggung umat Hindu, Muslim, dan Kristen.
Google dan facebook termasuk dalam 21 perusahaan online yang diancam pengadilan India karena tidak sensitif pada agama. Pada kasus yang diadukan seorang wartawan bernama Vinay Rai, pengadilan memberikan hukuman percobaan atas pelanggaran akibat mendistribusikan konten terlarang kepada anak-anak, kemudian gambar yang menyinggung Nabi Muhammad, Yesus, dan berbagai dewa dewi Hindu, serta pemimpin politik. Hal ini serta merta menguji kebijakan sensor di negara demokrasi terbesar dunia itu.
Sengketa ini berkaitan dengan undang-undang India yang dibuat tahun lalu di mana perusahaan harus bertanggungjawab atas konten pengguna di web mereka. Perusahaan internet diberikan waktu 36 jam untuk menghapus konten yang dianggap menyinggung jika terjadi keluhan. Dalam pengadilan tingkat rendah, beberapa warga sipil seperti mahasiswa dan wartawan menuntut pemblokiran situs tersebut.
"Tim pemantau kami sudah memblokir dan mengunci konten pencarian lokal (Google), Youtube, dan Blogger," demikian kata juru bicara Google, Paroma Roy Chowdhury.
Sementara microsoft telah mengajukan permohonan penolakan terhadap gugatan itu dengan alasan tidak ada alasan untuk memperkarakan Microsoft karena konten yang di muat murni berhubungan dengan website pencarian, jejaring sosial dan penyimpanan video seperti google,facebook dan youtube bukan microsoft.
seperti diketahui Kurang dari 10 dari 1,2 miliar penduduk India telah memiliki akses internet, namun hal itu masih menjadikannya india diurutan ketiga setelah China dan Amerika Serikat. Diperkirakan Jumlah pengguna internet di India hampir naik tiga kali lipat menjadi 300 juta pada tiga tahun ke depan. Meskipun ada aturan baru untuk memblokir konten yang menyinggung, akses internet di India sebagaian besar tidak disensor, sangat berbeda Cina yang sama-sama mempunyai jumlah penduduk yang banyak disana sensor sangatlah ketat.
Sementara para pembela HAM menentang hukuman itu, politisi mengatakan memposting gambar terlarang secara sosial di satu negeri kolot yang memiliki sejarah kekerasan antarkelompok agama, sangat berbahaya bagi masyarakat.
Memang benar apa yang dikatakan politisi itu para pembela HAM harus bisa membedakan antara kolot dan provokasi yang bisa menyebabkan perpecahan persatuan apalagi di negara india yang isu agama dan suku sangatlah sensitif disana.
Bahkan di negara kita sendiri tentu kita sering melihat kan video di youtube yang melecehkan atau postingan personal insult di facebook tentu kita pernah mendengar kejadian dimana seorang remaja di tangerang harus meregang nyawa karena dikeroyok gara-gara postingannya di facebook atau para pelaajar stm yang tawuran sampai ada korban jiwa gara-gara video provokasi dari stm lawannya di youtube?,
itulah salah satu contoh konten yang kebablasan, memang pihak youtube/facebook tidak bisa serta merta disalahkan karena mereka bukanlah robot yang bisa menghapus 'semua' konten yang memprovokasi ataupun penghinaan, hendaknya kita lebih bijak lagi dalam penggunaan youtube/facebook jangan sampai memprovokasi atau melecehkan pihak tertentu
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)

Tidak ada komentar :
Posting Komentar